Naruto VS Sasuke,who is the strongest?

Fatin Melawan Arus Jilbab Phobia

Posted by : Unknown

‘Jangan melihat seseorang berdasarkan apa yang
menutupi kepalanya, namun lihatlah bagaimana ‘isi’
otaknya alias pemikiran dan kiprahnya’, merupakan suatu jawaban narasumber pada suatu acara di Oprah Show beberapa tahun lalu. Oprah bertanya pada narasumber dengan pertanyaan ‘,apakah ‘tutup kepala’ yang dipakai warga negeri tersebut merupakan suatu halangan untuk ‘maju’. Narasumbernya waktu itu seorang Ibu Negara
dan aktivis kemanusiaan dari Timur Tengah. Memang
topik tentang jilbab ini seakan tidak ada habisnya, dan
bahkan sering berujung kontra dan SARA. Kasihan sekali ‘jilbab’ itu ya, wong jilbabnya aja gokil cripi cripi adem ayem kok masih dikontroversikan juga ye, hehe.

Profesi pekerja seni konon merupakan pekerjaan yang dikategorikan memiliki ‘kebebasan eksperesi’ yang tinggi. Bahkan kebebasan ekspresi itu bisa di artikan ’se bebas- bebasnya’ tanpa hambatan. Jilbab dianggap salah satu hambatan besar untuk berkarya dan berekspresi di dunia seni. Bahkan bisa jadi ada anggapan bahwa seorang pekerja seni tidak akan terkenal jika menggunakan penutup kepala ini. Pekerja seni ini khususon untuk
industri musik tanah air yang mayoritas penduduknya
Muslim. Bila kita bandingkan dengan profesi lain di
negeri tercinta, maka jumlah pemakai jilbab untuk
seniwatinya termasuk yang paling sedikit.

Fatin Shidqia Lubis merupakan pendatang baru di
Blantika Musik Indonesia. seseorang memenangkan
suatu lomba mungkin merupakan hal yang biasa. Yang
menjadi luar biasa adalah ketika banyak barisan sakit hati yang masih mempertanyakan kelayakan Fatin untuk menjadi juara ajang lomba ini. Barisan sakit hati itu juga yang kebanyakan menyuarakan masalah berkategori ‘jilbabphobia’, ketika Fatinistic mampu mengcounter Haters.

Jika ‘jilbabphobia’ ini terjadi di negara-negara Uni Eropa atau U.S, tentulah bukan hal yang luar biasa. Memang seperti itulah kenyataannya. Penulis juga memiliki banyak pengalaman yang ‘tidak menyenangkan’ mengenai diskriminasi tutup kepala ini di negeri manca tersebut. Informasi sepihak yang diterima masyarat disana membuat penulis cukup mafhum dan senyum na na na na aja ketika diperlakukan demikian. Tetapi jika
‘jilbabphobia’ ini malah terjadi di lumbung mayoritas,
malah menimbulkan tanda tanya besar.

Ketika Fatin dengan ‘identitas’ nya mencoba menapaki karier di dunia tarik suara, malah jilbabya yang heboh dipermasalahkan. Barisan sakit hati itu tetap kekeuh berpendapat bahwa kemenangannya hanya karena ‘jilbab’ yang akhirnya membuat orang simpati dan mengirimkan sms, lalu menang. Terus ketika Fatin dibuli di Kompasiana dan di counter secara ilmiah oleh Fatinistic, malah dibilang oleh barisan sakit hati itu kalau Fatin sudah di dewa-dewa kan oleh Fatinistic dan dijuluki Fatinmistik atau apalah itu. Tambah kelihatan lucu dan menggemaskan ternyata membaca tulisan barisan sakit
hati yang sudah kehilangan amunisi itu.

Dalam profesi apapun, berprofesi yang mengikuti arus
akan lebih sedikit resikonya dibandingkan yang melawan arus. Tantangan melawan ‘zona nyaman’ memang selalu tidak mengenakkan. Dalam dunia pasar uang dan pasar modal diistilahkan ‘high risk high return’. Namun segala tantangan dan resiko itu bukan berarti ‘katakan tidak pada tantangan’. Fatin dengan identitas jilbanya ternyata
membuat banyak fihak kebakaran jenggot. Terlebih jika akhirnya nanti Fatin tetap sukses dan eksis berkarya di dunia seni Indonesia dengan tetap Istiqomah pada identitasnya. Tentu akan berbondong-bondong para pemula, anak muda berbakat yang akan mengikuti jejak Fatin dengan tetap membawa identitas aslinya.
Gambaran ini ternyata cukup mengkhawatirkan bagi
pemain di industri seni tersebut yang hanya bermodal
nyali tanpa prestasi.

Fatin sudah lebih dua minggu memenangkan XFI dan kurang lebih enam bulan menjadi pendatang baru di panggung hiburan negeri kita. Fatin juga salah sedikit dari newbie di industri seni yang sedang melawan gencarnya kampanye ‘jilbabphobia’ disana. Waktu jualah nanti yang akan membuktikan bahwa profesi penyanyi itu yang diandalkan adalah suaranya, dan modal itulah yang akan
menjadikan seorang penyanyi disebut ‘Diva’. Dan Fatin dengan dukungan keluarga besar barunya yang bernama Fatinistic itu tengah berjuang untuk membuktikan bahwa seorang penyanyi itu yang dilihat itu ’suara’ nya dan bukan ‘apa-apa yang menutup kepalanya’. Salam foyyaa…

Sumber: m.kompasiana.com/post/musik/2013/06/06/fatin-melawan-arus-jilbabphobia-industri-musik-indonesia/

Rabu, 12 Juni 2013

1 komentar:

pak muliadi mengatakan...

KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل


KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل


Berkomentarlah Sebebasnya, Namun Sopan dan Blog ini NO SPAM.

Copyright © 2012 Muiez Eseries | Naruto Vs Sasuke V2 Theme | Designed by Johanes DJ